<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="1011">
 <titleInfo>
  <title>Respon Pemerintah Indonesia Dan Filipina Terkait Ekspor Sampah Kanada</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Dimas Prayuda Afandi</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">JAKARTA</placeTerm>
  </place>
  <publisher>Universitas Satya Negara Indonesia</publisher>
  <dateIssued>2020</dateIssued>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Dalam dunia Internasional sampah merupakan salah satu permasalahan utama bagi masyarakat internasional, diakibatkan pola konsumtif manusia dan kesadaran tentang sampah sangatlah kurang, yang menimbulkan permasalahan baru. Negara sebagai wadah bagi tiap-tiap warga negaranya masing-masing tentunya memiliki cara agar sampah yang dikeluarkan oleh warganya dapat berkurang ataupun diolah kembali atau di daur ulang. Keberhasilan suatu negara dalam mengolah sampahnya kembali, terlihat dari berapa persen total sampah yang dapat diolah kembali oleh negara tersebut, tidak hanya itu saja pengurangan pola konsumtif juga menjadi salah satu tolak ukur keberhasilan, Ini tidak berlaku terhadap Kanada, sebagai negara maju Kanada mengalami kemunduran dalam hal pengolahan sampah, akibat pola konsumtif masayarakat Kanada sebesar 2,7 Kg pertiap warganya, dan sistem pengolahan sampah Kanada yang tidak merata yang menyebabkan Kanada melakkan opsi lain untuk mengurangi penumpukan sampah yang ada di negara mereka yaitu dengan cara ekspor sampah. Akibatnya Kanada mengekspor sampah ke negara lain termasuk Indonesia dan Filipina Permasalahan utamanya pengiriman sampah Kanada tersebut tidak sesuai perjanjian yang ada baik di dalam Konvensi Basel maupun Undang-undang yang ada di Indonesia dan Filipina yang menyebabkan kedua negara tersebut memberi respon terhadap sikap Kanada yang tidak sesuai perjanjian tersebut.</note>
 <note type="statement of responsibility">Dimas Prayuda Afandi</note>
 <subject authority="">
  <topic>Ekspor Sampah</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>Konvensi Basel</topic>
 </subject>
 <classification>NONE</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>Institutional Repository USNI Universitas Satya Negara Indonesia</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">08200036</numerationAndChronology>
    <sublocation>Perpustakaan USNI Kampus A</sublocation>
    <shelfLocator></shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:digitals>
  <slims:digital_item id="1010" url="" path="/4476a100ca83edc0e41f7c617494f70f.pdf" mimetype="application/pdf">Respon Pemerintah Indonesia Dan Filipina Terkait Ekspor Sampah Kanada</slims:digital_item>
 </slims:digitals>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>1011</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2020-06-03 10:41:19</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2020-06-03 10:42:16</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>