<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="2111">
 <titleInfo>
  <title>Konstruksi Identitas pada Tren Foto Pre-Wedding dalam Gaya Seksual (Analisis Semiotika John Fiske)</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Wiharso</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">JAKARTA</placeTerm>
  </place>
  <publisher>USNI</publisher>
  <dateIssued>2022</dateIssued>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Tren pre-wedding merebak di khalayak luas semenjak perkembangan zaman media sosial, tren ini sudah menjadi salah satu gaya hidup yang secara tersirat wajib dilakukan oleh pasangan yang ingin melakukan pernikahan. Bagi calon pasangan yang ingin menikah, kegiatan pre-wedding juga menjadi salah satu bentuk eksistensi untuk mereka.&#13;
Teori yang digunakan pada penelitian ini teori konstruksi realitas sosial media massa yang menggambarkan subjektivitas yang di konstruksi oleh produksi teks media sebagai objektivitas yang dipublikasikan oleh media massa.&#13;
Dalam penelitian ini penulis menggunakan padadigma kritis, pendekatan kualitatif dengan metode semiotika John Fiske. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dokumentasi dari hasil foto pre-wedding karya Michel Klooster.&#13;
Hasil penelitian yang didapat menunjukan bahwa Tren konstruksi identitas pada foto pre-wedding terbentuk atas adanya pertukaran ide, simbol, makna dan hubungan antara pasangan dengan fotografer, bagaimana fotografer mengkonstruksi hasil foto pre-wedding sebagai identitas dari pasangan.&#13;
Penelitian ini juga menunjukan bahwa sebuah foto bisa menjadi gaya hidup dan dapat menjadi salah satu bentuk eksistensi diri, kontruksi identitas pada foto pre-wedding menjadi tren bukan semata karena kepentingan pasangan tetapi juga pihak-pihak lain yang berkepentingan dengannya seperti fotografer.</note>
 <note type="statement of responsibility">Wiharso</note>
 <subject authority="">
  <topic>Ilmu Komunikasi</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>Analisis Semiotika, iklan, Makna Pesan</topic>
 </subject>
 <classification>NONE</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>Institutional Repository USNI Universitas Satya Negara Indonesia</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">8220127</numerationAndChronology>
    <sublocation>Perpustakaan USNI Kampus A (SKRIPSI)</sublocation>
    <shelfLocator></shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:digitals>
  <slims:digital_item id="2126" url="" path="/a86ae1d92c948196228aa9262f4ed14f.pdf" mimetype="application/pdf">Konstruksi Identitas pada Tren Foto Pre-Wedding dalam Gaya Seksual (Analisis Semiotika John Fiske)</slims:digital_item>
 </slims:digitals>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>2111</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2022-06-16 13:59:32</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2022-06-16 14:01:56</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>